Ampyang
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Proses Pengeringan Ampyang Yang Sudah Matang

Rasanya tidak ada yang asing dengan Ampyang.

Bagi Anda yang hidup di desa, tentu akrab betul dengan salah satu jenis makanan tradisional legendaris yang satu ini.

Ya, Ampyang.

Ampyang adalah makanan tradisional yang ada hampir di semua desa di Indonesia. Meski jenis, bahan, corak, dan rasanya berbeda, namun Ampyang telah menjadi makanan tradisional warisan nenek moyang.

Di desa Dagan, kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga, Ampyang juga diproduksi oleh beberapa warga. Salah satunya adalah Suyanto, warga RT 01 RW 06. Ampyang yang ia produksi berbahan baku singkong.

Usaha Rumahan

Kang Yanto, demikian ia akrab disapa, telah menekuni pembuatan makanan tradisional Ampyang sejak sepuluh tahun yang lalu.

Bersama istrinya, Sumarti, lelaki trengginas tersebut menjadikan Ampyang sebagai usaha rumahan.

Meski bukan satu-satunya jenis usaha yang ia jalankan, namun usaha Ampyang miliknya mampu menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Setiap membuat ampyang, selalu habis dibeli orang. Kadang ada juga pesanan,” kata Yanto, ketika bertemu Tim Web Desa Dagan, Selasa (8/6) sore di rumahnya.

Bahan Baku Dari Singkong

Ampyang
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Proses Pembuatan Ampyang

Kang Yanto memproduksi Ampyang dengan bahan baku singkong. Meski kadang mencari bahan baku sendiri, namun banyak juga orang yang menjual singkong kepadanya.

“Seringnya mereka pada datang ke sini menawarkan singkong kepada saya. Sehingga sekarang saya jarang mencari bahan baku sendiri,” ungkapnya.

Untuk 1 kilo singkong, ia beli dengan harga Rp.1000. Biasanya, dalam satu kali produksi, Kang Yanto membutuhkan 50-70 kg singkong.

Dari jumlah bahan baku tersebut, ia mampu memproduksi 20-30 bungkus plastik kemasan 0,5 kg. Dengan demikian, dalam satu kali produksi, Kang Yanto mampu membuat 15 kg Ampyang siap jual.

Tanpa Bahan Pengawet

Ampyang Dagan
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Ampyang Sudah Siap Dijual

Kang Yanto menambahkan, ia dan istri tidak pernah sekalipun menggunakan bahan pengawet untuk Amyang yang ia produksi.

Sebab, paparnya, Ampyang adalah salah satu jenis makanan tradisional yang tahan lama. Namun, lanjutnya, ada juga Ampyang yang menggunakan bahan pengawet. Khususnya Ampyang yang telah diolah dengan cara modern.

“Saya mengutamakan kualitas, dari pada kuantitas. Dengan demikian, para pelanggan akan tetap membeli Ampyang yang ia produksi,” kata pria empat anak tersebut.

Kepuasan pelanggan, paparnya, adalah kebanggaan tersendiri bagi Kang Yanto.

“Karena kualitas produk, sampai saat ini pelanggan masih sering membeli Ampyang yang saya buat. Sehingga, usaha Ampyang yang saya jalankan masih bertahan hingga sekarang,” paparnya.

Jika dijalankan secara serius, pungkas Kang Yanto, usaha Ampyang dapat menjadi usaha yang mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa Dagan.