Sri Lestari, Kelompok Tani  Dusun II Desa Dagan Yang Syarat Prestasi

Sri Lestari, Kelompok Tani Dusun II Desa Dagan Yang Syarat Prestasi

Prestasi Poktan Sri Lestari Dagan

Ketua Poktan Sri Lestari, Suparjo, menunjukan salah satu piala sebagai juara dalam bidang Tanaman Pangan tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2016

Dagan—Salah satu Kelompok Tani (POKTAN) yang ada di desa Dagan, kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga, adalah Sri Lestari.

Kelompok Tani yang berada di wilayah Dusun II, desa Dagan tersebut menjadi satu-satunya kelompok tani yang memiliki banyak prestasi.

Salah satu prestasi yang cukup membanggakan adalah menjadi juara III lomba Kelompok Tani Berprestasi Dibidang Tanaman Pangan tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2016 ini.

“Meski hanya menjadi juara III, kami cukup bangga karena mampu bersaing dengan ratusan kelompok tani se kabupaten Purbalingga,” papar Ketua Kelompok Tani Sri Lestari, Suparjo.

Menurut Suparjo, prestasi yang diraih kelompoknya merupakan hasil kerja keras seluruh anggota. Karena itu, lanjutnya, sebagai ketua kelompok tani Sri Lestari, pihaknya sangat berterimakasih atas kerja sama antar anggota.

Mendapatkan Bantuan Mesin Pompa Air dan Benih Padi

Poktan Sri Lestari Dagan

Mendapatkan bantuan mesin pompa air dari Dinas Pertanian kabupaten Purbalingga

Lebih jauh Suparjo mengatakan, selain prestasi, kelompoknya juga mendapatkan bantuan satu set mesin pompa air senilai Rp. 22 juta rupiah, dan mendapatkan bantuan benih padi Situbagendit dari Dinas Pertanian kabupaten Purbalingga.

“Bantuan mesin pompa air kami terima pada tanggal 20 Agustus 2016. Sedang bantuan bibit padi, kami terima pada tanggal 9 Agustus 2016,” terang Suparjo.

Rencananya, mesin pompa tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan seluas 6,5 hektar pada musim kemarau. Sebab, lanjutnya, jika musim kemarau tiba, ada lahan milik anggota kelompok yang sulit mendapatkan air.

Sedangkan untuk bibit padi, secara khusus akan diberikan kepada anggota kelompok tani yang memiliki areal sawah di wilayah dusun II desa Dagan.

Menurutnya, bagi anggota yang menerima bantuan bibit padi, dikenai ketentuan untuk menanam benih padi dengan system Jajar Legowo (Jarwo). Sebab, tegas Suparjo, sistem Jajar Legowo merupakan rekomendasi teknologi pertanian untuk mencapai target swasembada pangan pada tahun 2017.

Berencana Mendirikan Kios Pertanian

Poktan Sri Lestari Dagan Mendapat Bantuan Padi

Suparjo menunjukan bantuan benih padi dari Dinas Pertanian kabupaten Purbalingga

Karena kerjasama kelompok sudah terbangun, pihaknya berencana akan mendirikan kios pertanian untuk anggota kelompok tani Sri Lestari.

Kios pertanian tersebut nantinya akan memenuhi kebutuhan produksi para anggota kelompok. Hanya saja, tegasnya, sejauh ini pihaknya masih terkendala dengan biaya.

Meski demikian, ia berharap agar rencana besar tersebut mendapat perhatian dari dinas terkait, sehingga dapat direalisasikan.

Ikut Karnaval Tingkat Kecamatan, Desa Dagan Kirim “Tank, Jet Tempur”,  dan Bendera Raksasa

Ikut Karnaval Tingkat Kecamatan, Desa Dagan Kirim “Tank, Jet Tempur”, dan Bendera Raksasa

Kontingen Karnaval Desa Dagan

“Pasukan Tank” Desa Dagan yang mengikuti lomba karnaval tingkat kecamatan Bobotsari

Bobotsari— Memeriahkan karnaval tingkat kecamatan Bobotsari, Pemerintah desa Dagan mengirimkan “Pasukan Tank” dan Bendera Merah Putih Raksasa. Selain itu, pemerintah desa Dagan juga mengirimkan kontingen Kuda Kepang Turonggo Mulyo.

Sebuah tank berwarna hijau dan sebuah jet tempur doreng diarak dari desa Dagan ke lokasi karnaval tingkat kecamatan, diiringi oleh pasukan dengan seragam dan senjata lengkap.

Selain itu, bendera merah putuh raksasa berukuran 17 kali 4 meter, dan rombongan kesenian kuda kepang Turonggo Mulya juga diikutsertakan.

“Ini merupakan partisipasi pemerintah desa Dagan, setelah sekian kali absen dalam kegiatan karnaval HUT RI tingkat kecamatan,” kata Kepala Desa Dagan, Hj. Sukarni, S.Sos, Kamis (18/8) kemarin.

Lebih jauh Sukarni menerangkan, semula pihaknya tidak akan mengirimkan kontingen karnaval tingkat kecamatan karena beberapa persoalan.

Namun, tegasnya, antusiasme masyarakat desa Dagan cukup tinggi, sehingga meski terkesan mendadak, pihaknya mengirimkan kontingan karnaval ke tingkat kecamatan.

“Kami menghargai partisipasi masyarakat Dagan dalam menyambut kegiatan karnaval tingkat kecamatan Bobotsari dalam rangka peringatan HUT RI ke 71,” paparnya.

Bendera Raksasa

Bendera raksasa hasil jahitan warga Desa Dagan turut memeriahkan lomba karnaval tingkat kecamatan Bobotsari

Karnaval Tingkat Desa

Pada hari sebelumnya, panitia pelaksana peringatan HUT RI ke 71 tingkat desa juga mengadakan lomba karnaval tingkat desa Dagan.

“Lomba karnaval tingkat desa sudah dua kali terlaksana,” papar ketua pelaksana peringatan HUT RI ke 71 tingkat desa, H. Sutrisno, S.Pd.

Sutrisno melanjutkan, kegiatan lomba karnaval tingkat desa Dagan diikuti oleh 5 perwakilan dari 5 wilayah dusun yang ada di desa Dagan. Hanya saja, tegasnya, hanya satu dusun yang tidak mengirimkan kontingen karnaval.

Namun, terangnya, secara umum kegiatan karnaval tingkat desa Dagan cukup meriah. Sebab, lanjut Sutrsino, masyarakat desa Dagan cukup semangat dalam menyambut peringatan HUT RI ke 71 tahun 2016 ini.

“Kami berharap agar kegiatan karnaval tingkat desa terus dilaksanakan pada peringatan HUT RI tahun depan,” pungkasnya.

Desa Dagan Ikut Lomba Gebyar Merah Putih Tingkat Kabupaten

Desa Dagan Ikut Lomba Gebyar Merah Putih Tingkat Kabupaten

gebyaar merah putih

Umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan desa Dagan sebagai syarat lomba Gebyar Merah Putih tingkat kabupaten Purbalingga

Dagan—Desa Dagan, menjadi satu-satunya desa di kecamatan Bobotsari yang mewakili kecamatan Bobotsari untuk mengikuti Lomba Gebyar Merah Putih tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2016.

Sekretaris Desa Dagan, Sutaryo, S.Sos mengatakan, dari 16 desa yang ada di kecamatan Bobotsari, hanya desa Dagan yang ditunjuk menjadi peserta kegiatan lomba Gebyar Merah tingkat kabupaten.

“Keikutsertaan desa Dagan menjadi peserta lomba Gebyar Merah tingkat kabupaten, karena masyarakat desa Dagan sangat antusias meramaikan HUT RI ke 71 tahun 2016 ini,” paparnya.

Masyarakat Dagan, lanjutnya, secara gotong royong memasang umbul-umbul berwarna merah putih, di sepanjang jalan desa.

Tidak hanya itu, di setiap gang yang ada di pemukiman penduduk, pun tidak luput dari pemasangan umbul-umbul berwarna merah putih.

“Bahkan, lampu jalan yang kelap-kelip pun dipasang. Sehingga, pada malam hari, situasi desa Dagan cukup semarak,” katanya.

Hanya Umbul-Umbul Berwarna Merah Putih

gebyar merah putih dagan

Gapura “Selamat Datang” di Desa Dagan

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Bobotsari, Juli Ahmadi, S.T mengatakan, berdasarkan surat edaran Bupati Purbalingga, umbul-umbul yang dipasang hanya berwarna merah putih. Sedang umbul-umbul selain warna merah putih tidak diperkenankan untuk dipasang.

“Dari surat edaran tersebut, masyarakat desa Dagan langsung melaksanakannya. Karena itu, ketika saya turun ke lokasi, banyak dijumpai umbul-umbul warna merah putih yang dipasang masyarakat desa Dagan,” ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah kecamatan Bobotsari menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat desa Dagan.

“Semoga lomba Gebyar Merah tingkat kabupaten Purbalingga dimenangkan oleh Desa Dagan,” pungkasnya.

Mencicipi Ampyang Singkong Khas Desa Dagan

Mencicipi Ampyang Singkong Khas Desa Dagan

Ampyang

Proses Pengeringan Ampyang Yang Sudah Matang

Rasanya tidak ada yang asing dengan Ampyang.

Bagi Anda yang hidup di desa, tentu akrab betul dengan salah satu jenis makanan tradisional legendaris yang satu ini.

Ya, Ampyang.

Ampyang adalah makanan tradisional yang ada hampir di semua desa di Indonesia. Meski jenis, bahan, corak, dan rasanya berbeda, namun Ampyang telah menjadi makanan tradisional warisan nenek moyang.

Di desa Dagan, kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga, Ampyang juga diproduksi oleh beberapa warga. Salah satunya adalah Suyanto, warga RT 01 RW 06. Ampyang yang ia produksi berbahan baku singkong.

Usaha Rumahan

Kang Yanto, demikian ia akrab disapa, telah menekuni pembuatan makanan tradisional Ampyang sejak sepuluh tahun yang lalu.

Bersama istrinya, Sumarti, lelaki trengginas tersebut menjadikan Ampyang sebagai usaha rumahan.

Meski bukan satu-satunya jenis usaha yang ia jalankan, namun usaha Ampyang miliknya mampu menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Setiap membuat ampyang, selalu habis dibeli orang. Kadang ada juga pesanan,” kata Yanto, ketika bertemu Tim Web Desa Dagan, Selasa (8/6) sore di rumahnya.

Bahan Baku Dari Singkong

Ampyang

Proses Pembuatan Ampyang

Kang Yanto memproduksi Ampyang dengan bahan baku singkong. Meski kadang mencari bahan baku sendiri, namun banyak juga orang yang menjual singkong kepadanya.

“Seringnya mereka pada datang ke sini menawarkan singkong kepada saya. Sehingga sekarang saya jarang mencari bahan baku sendiri,” ungkapnya.

Untuk 1 kilo singkong, ia beli dengan harga Rp.1000. Biasanya, dalam satu kali produksi, Kang Yanto membutuhkan 50-70 kg singkong.

Dari jumlah bahan baku tersebut, ia mampu memproduksi 20-30 bungkus plastik kemasan 0,5 kg. Dengan demikian, dalam satu kali produksi, Kang Yanto mampu membuat 15 kg Ampyang siap jual.

Tanpa Bahan Pengawet

Ampyang Dagan

Ampyang Sudah Siap Dijual

Kang Yanto menambahkan, ia dan istri tidak pernah sekalipun menggunakan bahan pengawet untuk Amyang yang ia produksi.

Sebab, paparnya, Ampyang adalah salah satu jenis makanan tradisional yang tahan lama. Namun, lanjutnya, ada juga Ampyang yang menggunakan bahan pengawet. Khususnya Ampyang yang telah diolah dengan cara modern.

“Saya mengutamakan kualitas, dari pada kuantitas. Dengan demikian, para pelanggan akan tetap membeli Ampyang yang ia produksi,” kata pria empat anak tersebut.

Kepuasan pelanggan, paparnya, adalah kebanggaan tersendiri bagi Kang Yanto.

“Karena kualitas produk, sampai saat ini pelanggan masih sering membeli Ampyang yang saya buat. Sehingga, usaha Ampyang yang saya jalankan masih bertahan hingga sekarang,” paparnya.

Jika dijalankan secara serius, pungkas Kang Yanto, usaha Ampyang dapat menjadi usaha yang mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa Dagan.

Ditangan Niat Wiadi Wardi, Produk Mebeler Desa Dagan Berkembang Pesat

Ditangan Niat Wiadi Wardi, Produk Mebeler Desa Dagan Berkembang Pesat

Plistur Produk Mebeler

Produk Mebeler UD. Dian Sari Milik Niat Wiadi Wardi

Mendirikan usaha di desa masih dipandang sebelah mata. Selain kendala produksi, sektor pemasaran juga masih dianggap menjadi persoalan pelik. Sehingga, masih banyak orang yang berfikir dua kali untuk mendirikan usaha di desa.

Tapi tidak bagi Niat Wiadi Wardi.

Pria berusia 51 tahun tersebut malah berfikir sebaliknya. Baginya, mendirikan usaha di desa sama sekali bukan menjadi kendala.

Terbukti, setelah mendirikan usaha produksi mebeler di desa Dagan, kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga, kini usahanya semakin berkembang pesat.

Ditemui di kediamannya, Wardi, demikian pria ini akrab disapa, menuturkan perjalanan usaha mebeler yang ia geluti kepada tim pengelola website desa Dagan.

Bemula Dari Hobi

Wardi menuturkan, menggeluti usaha mebeler berawal dari hobinya atas produk-produk mebeler. Hobi tersebut kemudian diseriusi dengan mendirikan usaha meleber sejak tahun 1999 silam. Dengan modal Rp. 1,5 juta, ia memulai usaha mebeler.

“Karena saya suka dengan mebeler, dan sebelumnya juga pernah menjadi tukang kayu, akhirnya saya mewujudkan apa yang menjadi hobi saya,” kata Wardi, ramah.

Lebih jauh Wardi menuturkan, selain modal yang tidak seberapa, ia hanya juga berbekal pengalaman yang telah ia dapat.

“Pengalaman tersebutlah yang membuat saya terus berikhtiar untuk menjalankan usaha mebeler,” katanya.

Kembang-Kempis

Karyawan Wardi

Salah satu karyawan sedang bekerja

Jalan usaha yang ia rintis tidak semudah yang ia bayangkan. Hal ini memang sudah ia sadari sejak awal.

“Bahwa yang namanya usaha tidak semudah membalikkan telapak tangan,” paparnya. Pada tahun 2008, ia sempat mengalami kerugian sekitar Rp. 600 juta.

Sejak itulah, ia mulai bekerja menjadi tim pembangunan gardu induk PLN di cilacap, dan bekerja pada sektor-sektor lain.

“Semuanya saya kerjakan agar saya punya modal agar usaha mebeler saya tetap bertahan,” kisahnya.

Omset Puluhan Juta per Bulan

Karena konsisten dalam bidang usahanya tersebut, kini ia tengah merasakan buah manisnya. Kisaran tahun 2014 hingga 2016 ini, omset usahanya telah mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

“Meski demikian, omset yang ia dapatkan tidak ajeg. Namun, minimal ia mampu mendapatkan omset Rp. 10 juta per bulan,” ceritanya.

Produk Mebelernya Pernah Dibeli Pelawak Tarsan

Ia tidak pernah menyangka. Beberapa produk mebelernya pernah dibeli pelawak legendaris Sri Mulat, Tarsan.

Ceritanya, lanjut Wardi, pada saat bekerja dengan PLN, ia sempat akrab dengan salah satu anak kandung Tarsan, yang juga bekerja di PLN.

Dari kedekatan tersebutlah, ia mampu menawarkan produk mebelernya kepada Tarsan.

Sejak itu, ia semakin yakin bahwa usahanya akan tetap hidup. Berbekal pengalaman tersebut, ia melakukan pemasaran produknya dari mulut ke mulut.

“Apalagi, pelawak Tarsan pernah membeli produknya,” kata Wardi, bangga.

Menjadi Wakil Kabupaten Purbalingga Dalam Pameran Produk Mebeler di Semarang

Niat Wiadi Wardi

Niat Wiadi Wardi bersantai di teras rumahnya

Pengalaman lain yang membuat ia semakin percaya diri, adalah ketika dirinya ditunjuk oleh Dinas Perindustrian kabupaten Purbalingga untuk mewakili kabupaten Purbalingga mengikuti pameran produk mebeler di semarang pada tahun 2000.

“Hal itu menjadi kebanggan tersendiri untuk saya,” katanya.

Selain menjadi wakil kabupaten Purbalingga dalam pameran produk mebeler, ia juga menyilahkan orang-orang di desa Dagan, untuk mengasah ketrampilan membuat produk mebeler di bengkel kerjanya.

Sudah puluhan orang yang bekerja sambil belajar dibengkel kerjanya. Dari puluhan orang tersebut, setidaknya ada 12 orang yang kini sudah sukses mendirikan usaha mebeler sendiri.

“Saya bangga, karena saya dapat menularkan ilmu yang berguna kepada orang lain,” terangnya.

Usaha di Desa Tidak Perlu Minder

Sebelum mengakhiri wawancara, Wardi sempat berpesan kepada seluruh warga desa Dagan, agar tidak minder untuk berusaha di desanya.

Dimanapun usahanya, lanjut Wardi, jika punya kemauan kuat dan tidak mudah menyerah, pasti akan mendapatkan hasil.

“Saya sudah pernah mempunyai 4 mobil. Namun, semuanya hilang untuk menutupi modal saya. Namun, saya tidak menyerah. Keyakinan dan ketekunanlah yang membuat saya tetap bertahan hingga sekarang,” pungkas Suwardi, senang.