Gula Kelapa

Produk gula kelapa Kang Sahid, siap dikemas dan dipasarkan

 

Dagan— Jarum jam bertumpukan di angka dua. Siang itu, Minggu (27/11) langit tampak gelap. Sisa air hujan masih berjatuhan dari pohon kelapa. Dingin masih sangat terasa menusuk tulang.

Namun, alam yang tidak bersahabat tidak lantas membuat Sahid, (40) warga dusun V Desa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, bermalas-malasan. Puluhan pongkor ( tempat menampung nira kelapa ) yang sudah penuh, segera ia masukan ke dalam wajan ( kawah ).

Sambil sesekali memasukan kayu bakar ke dalam pawon (tungku), Kang Sahid, demikian biasa ia akrab disapa, dengan ramah menyambut kedatangan saya.

Setelah bersalaman dan bertanya kabar, ia lantas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengalir dari mulut saya.

Mewarisi Keahlian Orang Tua

Kang Sahid, sudah puluhan tahun menjadi pengrajin gula kelapa. Ketrampilan yang ia punya, merupakan warisan dari orang tua, yang ia pelajari secara langsung.

“Orang tua saya dulu juga menjadi pengrajin gula kelapa. Sejak kecil, saya sering menemani bapak Nderes,” katanya.

Keahlian yang diwarisi secara turun-temurun itu, kata Kang Sahid, sejatinya bukan satu-satunya pilihan yang disajikan orang tua.

Suatu hari, orang tuanya pernah berpesan kepadanya agar mencari profesi lain selain sebagai pengrajin gula.

“Menjadi pengrajin gula itu resikonya besar, tapi hasilnya sedikit,” ujar Kang Sahid, mengutip kata-kata bapaknya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih menjadi pengrajin gula kelapa, meski ia pernah merantau kesana-kemari.

Berbagi Peran Dengan Istri

Kang Sahid dan Istrinya

Bersama Istrinya, Sopiyah, Kang Sahid berbagi peran pengolahan gula kelapa miliknya

 

Setiap pagi, Kang Sahid naik pohon kelapa. Tidak hanya satu atau dua pohon, melainkan hingga 41 pohon untuk mendapatkan nira yang banyak.

“Pagi hari saya naik pohon. Selain untuk memasang pongkor, saya juga mengambil pongkor yang saya pasang pada hari sebelumnya, untuk mengambil nira,” tutur Kang Sahid.

Pekerjaan menaiki pohon ia lakukan mulai pukul tujuh pagi. Karena jumlah pohon yang harus ia naiki sebanyak 41, maka pukul Sembilan baru selesai.

Setelah nira sudah diambil semua, maka kemudian Kang Sahid memasukan nira ke dalam satu wadah besar.

Kang Sahid tidak sendirian. Bersama istrinya, Sopiyah (38) ia berbagi peran.

Setelah nira diaduk, kemudian ia meminta istrinya untuk memasak nira tersebut, menggunakan wajan besar di atas Pawon ( tungku yang terbuat dari tanah ).

Menyalakan kayu bakar, mengulek, hingga mencetak gula, adalah sisa pekerjaan bagi Sopiyah.

“Untuk memasak nira sampai matang, biasanya memakan waktu empat hingga lima jam,” timpal Sopiyah, sembari mengulek nira yang tampak mulai mendidih.

8 Kilo Gula dalam Sehari

Dalam sehari, Sopiyah mampu mencetak gula hingga 8 kg. Kalau niranya banyak, kata Sopiyah, biasanya lebih.

“Musim hujan begini, paling banyak Cuma 8 kg. Kalau musim terang, biasanya bisa lebih,” tutur Ibu tiga anak tersebut.

1 kg gula, lanjut Sopiyah, ia jual seharga Rp. 12.000,-. Jika sehari mampu menghasilkan 8 kg gula, maka ia mendapatkan penghasilan sebanyak Rp. 96.000,-.

Produk gula kelapa olahannya tersebut, ia jual ke warung terdekat. Dari warung, biasanya masyarakat membelinya Rp. 14.000,- per kilo.

Tanpa Campuran Obat Pengawet

Sopiyah menegaskan, ia dan suaminya sama sekali tidak menggunakan obat untuk mencampur gula olahannya.

“Jadi, gula yang saya cetak benar-benar alami, tanpa campuran obat apapun,” terangya, ketika saya bertanya perihal obat yang kini mulai marak digunakan oleh para pengrajin gula.

Ia sengaja tidak menggunakan obat atau bahan pengawet pada gula olahannya. Sebab, ia dan suaminya tidak ingin porduk kerajinannya dicap sebagai produk dengan campuran bahan pengawet dan sejenisnya.

Sopiyah, dan Kang Sahid, berharap agar pemerintah berpihak pada pengrajin gula, dengan menjaga stabilitas harga.

“Saya sangat berharap agar pemerintah memperhatikan kami. Sehingga, kami benar-benar dapat hidup dari pekerjaan kami sebagai pengrajin gula kelapa,” pungkas Sopiyah, sebelum saya berpamitan.